Cara Efektif Menyelesaikan Konflik Rumah Tangga




Cara Jitu Menyelesaikan Konflik dalam Rumah Tangga 

Rumahayu.Com - Ekonomi sulit membuat banyak orangtua mengalami stres. Sebagian orangtua mencemaskan pekerjaan, pembayaran cicilan rumah, biaya perawatan kesehatan atau uang untuk keperluan lainnya dalam keluarga. Uang dan pekerjaan merupakan sebab utama stres bagi hampir 75% penduduk negara.

Dalam beberapa riset menunjukkan bahwa konflik muncul ketika stres dan kecemasan orangtua meningkat. Anak-anak bisa merasakan ketegangan ini dan mereka juga bertindak frustrasi. Mereka meniru perilaku orangtua mereka yang stres, menciptakan masalah atau menarik diri dari orangtua mereka.

Masalah keuangan dapat menimbulkan tekanan yang berlebihan pada kehidupan keluarga. Orangtua sering begitu stres karena harus membayar tagihan yang tampak tak ada habisnya dan meminjam uang untuk membayar sampai mereka mengabaikan masalah yang perlu diperhatikan.

Untuk mempunyai kesehatan mental yang baik, sebagai orangtua, Anda harus belajar untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mencoba menjadi orangtua yang positif. Konflik disebabkan masing-masing orang mempunyai keyakinan pendapat, pandangan, pengalaman dan nilai kehidupan yang berbeda. Jika tidak dikelola secara cermat, konflik dapat membahayakan hubungan antar anggota keluarga.

Orangtua disarankan untuk mengambil waktu dan belajar berkomunikasi serta menjadi pendengar yang baik. Untuk itu perlu latihan. Jika Anda memutuskan untuk tidak menghadapi masalah, Anda suatu saat akan menuai akibatnya. Berikut, langkah-langkah yang bisa membantu orangtua dan anak dalam menyelesaikan konflik di rumah tangga.

A. Jelaskan Masalah
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjelaskan masalah, yaitu:

  • Fokus pada perilaku atau masalah, bukan pada individunya. Jangan menyerang orang lain. 
  • Pandang konflik sebagai masalah bagi Anda untuk dapat diselesaikan bersama, bukan perang untuk dimenangkan. 
  • Tenang dan jangan menilai ketika mengungkapkan fakta dan perasaan. 
  • Ambil giliran dengan menggunakan pesan ‘Saya’. Ini membantu menceritakan perasaan-perasaan, masalah dan efek pada setiap orang. 
  • Ambil waktu untuk fokus pada perasaan. Anak-anak melihat sesuatu terutama dari pandangannya sendiri. Mereka mungkin sama sekali tidak sadar bagaimana perilaku mereka berefek pada orang lain. Untuk merundingkan solusi yang adil, anak-anak perlu tahu bagaimana perasaan orang lain. 

B. Perlakukan Orang Lain dengan Respek
Untuk memperlakukan orang lain dengan respek, kita perlu mengikuti cara-cara dibawah ini:
  • Perlakukan orang lain sebagai orang yang berharga dan sederajat. 
  • Bersedia mengakui bahwa ada kemungkinan Anda salah. Anda mungkin salah atau paling tidak menjadi bagian dari kesalahan dan perlu melakukan beberapa perubahan. 
  • Jujur dengan diri sendiri dan orang lain. 
  • Cari tempat dan waktu untuk diskusi masalah didalam konflik ketika Anda sedang tidak bertengkar atau marah. 
  • Tetap tenang dan percaya bahwa Anda bisa menemukan solusi untuk masalah ini jika Anda duduk dan diskusi secara tenang. Jika konflik menyangkut keuangan keluarga, coba buatlah jurnal dari semua pengeluaran, termasuk siapa yang membelanjakan apa. 
  • Punya tujuan yang jelas. Tahu apa yang ingin Anda capai. Jika punya konflik tentang uang, ciptakan anggaran keluarga yang bisa meringankan beban keuangan. 

C. Komunikasikan dan Bantu Anak dalam Menetapkan Tujuan
Ada beberapa cara yang harus ditempuh yaitu:
  • Jangan melindungi anak dari masalah keuangan keluarga 
  • Dengarkan untuk memahami perasaan-perasaan, kebutuhan-kebutuhan dan pandangan orang lain. 
  • Jangan berdiri dengan berkacak pinggang dan wajah merengut. 
  • Pertama-tama cari dulu cara untuk mengerti, sesudah itu cobalah untuk fahami. 
  • Sebutkan apa yang Anda dengar. 

D. Pikirkan Solusi dan Evaluasi Konsekuensi
Setelah masalah sudah dijelaskan dan dikomunikasikan, maka tibalah pada langkah-langkah evaluasi yaitu:
  • Tetap fokus pada masalah dan pemecahan yang jelas. 
  • Bergilir memberikan alternatif solusi, tuliskan semua. 
  • Jangan mengadili penilaian orang lain. 
  • Pikirkan konsekuensi dari setiap solusi dengan pertanyaan pada diri sendiri, contoh ‘Apa yang akan terjadi jika kami melakukan hal ini? Apakah semuanya akan mendapatkan apa yang diinginkan? Siapa yang akan terpengaruh dengan pilihan ini?’ 
  • Berpikir dan bicara positif 
  • Pikirkan nilai-nilai keluarga dan nilai-nilai pribadi Anda. 

Jalan terakhir adalah jika Anda tidak bisa merundingkan solusi, kemungkinan perlu orang ketiga sebagai mediator. Mediator yang baik bisa dari pihak teman, guru, orangtua, konselor maupun pekerja sosial. Proses belajar menyelesaikan masalah perlu waktu.

Orang tua mungkin terdorong untuk memberitahu apa saja tentang apa yang harus dilakukan anak. Cara ini membuat anak tidak mendapatkan pengalaman berpikir yang diperlukan mereka. Ingat, keluarga sehat membentuk masyarakat yang sehat. Usahakan untuk membuat ruang keluarga lebih sehat.