Penyakit Bell's Palsy, Ciri-ciri dan Pencegahannya



Rumahayu.com - Paparan udara yang menerpa wajah secara berlebihan ternyata bisa menyebabkan wajah menjadi mencong secara tiba-tiba. Penyakit inilah yang kemudian terkenal sebagai penyakit Bell’s Palsy.

Berikut ciri-cirinya:
  • Wajah cenderung mencong (miring satu sisi) 
  • Tidak bisa menutup mata, bola mata bergerak keatas saat mata ditutup, kelopak mata bawah sebaliknya. 
  • Gangguan mengunyah, airmata berlebihan. 
  • Tidak dapat tersenyum dan bersiul.

Mungkin bagi sebagian orang, Bell’s Palsy ini masih dianggap aneh, padahal penyakit ini telah diketemukan oleh Sir Charles Bell pada abad ke-19. Ahli bedah dari Skotlandia ini menemukan derajat keluhan klinis yang beragam yang ditimbulkan penyakit Bell’s Palsy ini. Keluhan-keluhan itu berupa: wajah yang tidak simetris, kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna, gangguan pengecapan serta sensasi mati rasa (baal/ kebas) pada salah satu sisi wajah; nyeri disekitar dan dibelakang telingan dan demam; telinga berdenging sampai gangguan pendengaran.

Berdasarkan penelitian yang ada, penderita yang terkena penyakit di Indonesia banyak disebabkan oleh paparan udara, baik AC (Air Conditoner), kipas angin maupun udara bebas akibat mengendarai kendaraan bermotor atau kendaraan umum. Sedangkan diluar negeri banyak disebabkan oleh reaktivasi dari herves simpleks.

Bell’s Palsy berbeda dengan serangan Stroke karena penyakit ini tidak disertai oleh kelemahan anggota gerak. Letak kerusakan sarafnya pun berbeda. Stroke disebabkan oleh rusaknya bagian otak yang mengatur pergerakan salah satu sisi tubuh, termasuk wajah. Sedangkan pada Bell’s Palsy kerusakan yang terjadi langsung pada saraf wajah.

Bell’s Palsy dapat terjadi pada pria atau wanita usia 20-60 tahun. Penyakit ini pun bisa disembuhkan. Lama penyembuhannya tergantung dari berat atau ringan saraf yang terkena. Bell’s Palsy juga bisa disebut sebagai penyakit saraf kejepit. Jika penekanan sarafnya minimal maka proses penyembuhannya biasanya lebih cepat; kurang dari 3 bulan. Jika penekanannya sarafnya sedang maka proses penyembuhannya 3-6 bulan. Jika penekanannya berat maka bisa lebih dari 6 bulan.

Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini antara lain:

  • Jika berkendara motor, gunakanlah helm penutup wajah penuh untuk mencegah angin untuk menerpa wajah. 
  • Bagi pelancong yang gemar naik gunung atau bepergian di negeri bersalju, gunakanlah penutup wajah (masker) dan pelindung mata. Suhu rendah, angin kencang dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi menyebabkan Bell’s Palsy
  • Hindari wajah dari paparan udara langsung 
  • Bila naik mobil berpendingin AC, jangan arahkan AC ke wajah atau jangan terlalu dekat dengan alat pendingin. 
  • Bila melakukan perjalanan dengan kendaraan umum, jangan membuka jendela disatu sisi. 
Pengobatan atas penyakit ini harus dikondisikan sesuai penyebabnya. Jika terkena virus maka diberikan obat anti virus. Antivirus Acyclovir (Zovirax) dan Femvir efektif mempercepat proses penyembuhan apalagi jika pemberiannya sedini mungkin. Sedangkan untuk mengurangi rasa nyeri, bisa menggunakan Analgesik.

Untuk penyembuhan Bell’s Palsy yang tak kalah penting adalah Psioterapi. Psioterapi dilakukan melalui pemanasan pada saraf yang terkena. Bila dirumah, terapi bisa dilakukan dengan handuk yang dibasahkan air panas dan menempelkannya didekat telinga agar sirkulasi darah menjadi lancar kembali.

Selain itu bisa juga lewat pemijatan dengan gerakan memutar kearah telinga, mulai dari dagu, pipi sampai area dekat telinga. Juga dengan senam wajah sambari mengucapkan A, I, U, E, O dan melatih otot wajah dengan makan permen karet.