Cara Efektif Mengasah Kecerdasan Emosi Anak




Rumahayu.Com - Dalam kehidupan sehari-hari, refleksi emosi ternyata lebih memainkan peran dalam proses pengambilan keputusan dan perilaku seseorang dibanding perhitungan nalar. Oleh karena itu, cenderung logis jika untuk meraih banyak prestasi dan kesuksesan hidup, seorang anak perlu dibekali kecerdasan emosi yang maksimal sejak dini.

Kecerdasan Emosi bisa di Pelajari

Jika kecerdasan intelektual atau yang biasa disebut IQ banyak yang berpendapat merupakan ‘turunan genetik ‘dari orangtua kepada anaknya, maka kecerdasan emosional atau SQ adalah proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup.

Ada tabiat-tabiat khusus yang didapat seorang anak sejak ia dilahirkan. Namun pola asuh dan pengaruh lingkungan juga sedikit banyaknya membentuk karakter dan emosi seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya sehari-hari. Hal ini seperti yang tergambar dari puisi Dorothy Law Nolte.


Children Learn What They Live


If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini:

Anak Belajar dari Hidupnya

Jika anak banyak dicela, Ia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak banyak dimusuhi, Ia akan terbiasa menentang.
Jika anak dihantui ketakutan, Ia akan terbiasa merasa cemas.
Jika anak banyak dikasihani, Ia terbiasa meratapi nasibnya.
Jika anak dikelilingi olok-olok, Ia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak dikelilingi rasa iri, Ia akan terbiasa mendengki.
Jika anak dipermalukan, Ia akan merasa bersalah.
Jika anak dimengerti, Ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak banyak diberi dorongan, Ia akan terbiasa percaya diri.
Jika anak banyak dipuji, Ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak diterima lingkungannya, Ia akan terbiasa menyayangi.
Jika anak tidak banyak dipersalahkan, Ia akan terbiasa menjadi dirinya sendiri.
Jika anak mendapat pengakuan dari kanan kiri, Ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya.
Jika anak diperlakukan dengan jujur, Ia akan terbiasa melihat kebenaran.
Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan pertimbangan, Ia akan belajar menghargai.
Jika anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka dan orang-orang tentang mereka.
Jika anak-anak hidup dengan persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

Dalam proses mengasah kecerdasan emosi anak, bersikap empati pada emosi anak adalah pijakan dasar bagi orangtua sebelum sampai pada taraf membimbing perilaku. Anak akan merasa dipercaya dan didukung oleh orangtua sehingga mencapai kesepakatan bersama.

Misalnya saja suatu ketika Anda berjanji mengajak putri kesayangan Anda jalan-jalan ke toko buku. Menjelang siang, datang kabar bahwa nenek Anda meninggal dunia dan Anda harus datang segera. Maka akhirnya kemudian Anda sekeluarga berangkat dan membatalkan acara jalan-jalan. Tentunya si kecil akan cemberut dan menggerutu sepanjang jalan menuju rumah nenek. Jika Anda memilih kalimat “Diam Nisa, kamu ini bagaimana sih? Apa kamu tidak tau kalau orangtua sedang terkena musibah…?”. Dengan kalimat tersebut kecil kemungkinan putri Anda bisa mengerti, yang ada bahkan ia akan semakin merajuk karena marah, kecewa merasa terluka hatinya.

Yang terbaik, coba berempatilah dulu dengan kekecewaannya sebelum menawarkan solusi. “Mama tahu kamu kecewa karena kita tidak jadi jalan-jalan siang ini. Tetapi nenek meninggal dunia dan kita harus ke rumah nenek sekarang untuk melayat dan mendoakan nenek. Bagaimana kalau jalan-jalannya besok sore saja sepulang Nisa dari sekolah?”.

Seringkali ungkapan emosi anak tidak terasah dengan baik karena orangtua tidak mendengarkan dengan benar. Mendengar ungkapan emosi anak tidak berarti sekedar menggunakan telinga untuk menangkap kata anak-anak, tetapi juga menangkap maksud tersirat yang dituju, menampakan ekspresi wajah, berempati dengan masalah anak atau memberikan komentar-komentar yang sesuai dengan situasinya.

Luapan emosi yang tidak terungkap secara fokus dan jelas bisa mengarah pada perilaku destruktif. Anak yang tidak bisa mengungkapkan bahwa perasaan yang dialaminya bisa jadi akan bertindak agresif dengan merusakkan mainan adiknya atau memukul adiknya. Jadi bila anak terlihat uring-uringan, murung, takut atau justru amat bersemangat, maka tanyakan padanya bagaimana perasaannya saat itu dan arahkan anak agar mampu membuat ungkapan tentang emosinya pada saat itu.

Pada akhirnya, mencerdaskan emosi anak tak berarti orangtua harus tampil ‘sempurna’. Sesekali berselisih dengan anak ataupun pasangan, merasa sedih atau kecewa didepan anak-anak tidak menjadi soal sepanjang mereka juga melihat bagaimana cara Anda menyelesaikan semua persoalan itu dengan cerdas.