Meluruskan Paradigma Sebutan Anak Cerdas




Rumahayu.com - Anak cerdas adalah dambaan setiap orang tua. Saat didunia mereka menjadi permata hati yang melipur segala lara dan nanti diakhirat kelak mereka adalah teman yang menyenangkan didalam syurga. Jika anda berminat memiliki anak yang seperti ini, pastikan setidaknya anda telah mengawalinya dengan paradigma yang benar tentang anak cerdas.


Dalam beberapa kasus dewasa ini masih banyak orang tua dan guru yang salah kaprah tentang apa itu yang disebut anak cerdas. Kasus yang terjadi biasanya ketika orang tua menerima hasil laporan belajar putra dan putrinya disekolah. Ketika putra/ putri mereka mendapatkan peringkat yang bagus, orang tua akan merasa senang bukan kepalang tapi ketika putra/ putrinya tidak mendapatkan nilai sesuai yang diharapkan maka orang tua tersebut akan merasa kecewa bahkan muncul perasaan sedih.


Fenomena semacam ini marak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua akan merasa bangga jika anak berhasil meraih peringkat dan bersedih, bahkan malu jika anak memiliki nilai dibawah rata-rata. Seolah-olah ranking dan nilai anak di raport adalah cerminan masa depan anak. Demikian pentingkah arti ranking bagi orangtua dalam mengukur kecerdasan anak? Apa sebenarnya makna kecerdasan? Mungkinkah orangtua dan guru mencetak anak cerdas dunia akhirat sekaligus?

Pakar pendidikan menyebutkan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan mengolah sehingga dapat mengerti perbedaan, membuat daftar prioritas, menyelesaikan masalah, membentuk jaringan, mengasosiasikan dan memiliki daya ingat yang kuat, serta memiliki kemampuan untuk percaya, berpegang pada prinsip dan banyak lagi kemampuan yang lain. 

Saat ini dikenal beberapa kecerdasan yaitu: Kecerdasan Spiritual (Spiritual Inteligence), Kecerdasan Emosional (Emotional Intilligence), Kecerdasan Intelektual (Intellectual Intelligence) dan Kecerdasan Sosial (Social Intelligence). Ragam kecerdasan tersebut berakar dari potensi kalbu, potensi syaraf, potensi otak dan potensi sosialisasi. Optimalisasi semua potensi tersebut akan menghasilkan sosok manusia yang seimbang antara otak kanan dan otak kirinya, menjadi hamba yang patuh pada aturan agama juga bisa sangat kreatif menjadi pemimpin di dunia.

Dari keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa posisi anak sebagai hamba dan bila nanti menjadi pemimpin akan selalu saling bereaksi, dengan kata lain bahwa manusia yang kreatif tidak akan keluar dari koridor kehambaan dia sebagai hamba yang taat pada Tuhannya sehingga sebutan anak cerdas itu cocok untuk anak yang bisa meningkatkan potensi-potensi spiritual, emosional, intelektual dan sosialnya tanpa keluar dari aturan main yang telah ditetapkan oleh agama. Sosok manusia yang seperti inilah yang bisa disebut cerdas karena kecerdasannya bisa sinergis antara satu dengan lainnya.